Oleh : Minke Aulan Nisa’*
Masalah bukan dihadapi dengan kasar melainkan dengan sabar
Anak merupakan anugrah terbesar dari Tuhan bagi sebuah keluarga. Anak menjadi salah satu alasan suatu keluarga untuk terus bersama dan terlihat bahagia. Namun, dapat
dipungkiri bahwa tidak sedikit warga negara Indonesia yang melakukan perceraian. Yang mana
dalam laporan statistik Indonesia tercatat 516.334 kasus perceraian pada tahun 2022. Kasus ini meningkat hingga 15,31% dari tahun 2021 yang hanya 447.743 kasus perceraian. Dari data
tersebut, kita dapat membayangkan betapa banyak anak yang terlantar atau bahkan tidak mendapat kasih sayang yang seimbang oleh orang tua mereka. Sehingga hal itu jelas akan berdampak pada perkembangan emosi anak.
Apa yang harus di perhatikan terhadap anak ketika orang tua memiliki masalah dan jalan satu satunya adalah cerai?
Perkembangan sosial emosional anak harus diperhatikan. Jika orang tua bercerai, maka tidak hanya berdampak pada suami istri itu saja, tetapi tentu akan berdampak pada
anak. Terutama pada anak yang sedang memasuki masa tumbuh kembang.
Pada masa tumbuh kembang, anak mengalami masa golden age atau masa emas.
Yang mana, pada masa ini kemungkinan besar anak masuk ke fase peka terhadap tumbuh kembang mereka secara tepat. Perkembangan anak ini tentu tidak akan sama antara anak yang memiliki latar belakang keluarga yang selaras dengan latar belakang keluarga yang telah terpecah belah. Karena tentu saja reaksi anak yang orang tuanya terpecah akan mengalami gangguan mental
ataupun sosial emosionalnya.
American Academy of Pediatrics ( 2012 ) menyatakan bahwa perkembangan sosial emosi mengacu pada kemampuan anak untuk memiliki pengetahuan dalam mengelola dan
mengekspresikan emosi secara lengkap baik emosi positif maupun emosi negatif, mampu menjalin hubungan dengan anak-anak lain dan orang dewasa disekitarnya. Dapat kita tangkap sendiri bahwa lingkungan dan orang dewasa disekitarnya sangat berpengaruh bagi perkembangan emosi sosial pada anak.
Dampak pertengkaran orang tua dalam perkembangan sosial emosional anak!
Jika setiap hari anak mendapatkan asupan kericuhan di dalam rumah seperti ketika orang tua mereke melihat, melihat diperhatikan setiap saat, serta kurang mendapat
kasih sayang, merekea pasti akan terganggu dalam perkembangan emosi sosialnya. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang memiliki emosi negatif. Karena anak akan merasa khawatir kehilangan orang tuanya sehingga menimbulkan emosi yang tidak stabil. Beberapa emosi yang dapat dikatakan sebagai emosi negatif diantaranya adalah emosi marah, emosi takut, emosi
malu, dan lain sebagainya.
Emosi yang timbul saat orang tua anak bercerai!
Salah satu emosi yang akan timbul dari mereka yang mengalami perceraian dengan orang tuanya adalah emosi malu. Menurut (Shame and Guilt, 2002) menyatakan bahwa emosi malu masuk pada emosi negatif yang melibatkan perasaan tertutup diri atau tidak percaya diri. Hal ini sama ketika anak melihat orang tua mereka melakukan perceraian, pasti mereka akan merasa malu karena tidak memiliki orang tua yang utuh. Mereka juga akan mendapatkan ejekan dari teman-temannya. Situasi seperti ini akan membuat mereka tertekan dan
mengalami emosi yang tidak stabil.
Ketika anak merasa malu, terkadang anak juga akan merasa bersalah. Anak akan menyelesaikan bahwa orang tua berpisah karena dirinya sendiri. Hal ini bisa diakibatkan oleh ketika mereka mendengar orang tua sedang baretkar dan membawa nama mereka. Maka (Niedenthal dkk., 1994) menggambarkan perbedaan antara emosi malu dan emosi bersalah.
Emosi malu timbul karena mereka memiliki penghakiman negatif terhadap dirinya sendiri atau yang dimilikinya. Sedangkan emosi bersalah terkait dengan penyesalan terhdap tindakan atau kegagalan yang ada pada dirinya.
Anak yang berada di fase seperti ini sebaiknya lebih diperhatikan. Karena dampak dari emosi malu memiliki berbagai macam tingkat serta intesitasnya. Jika mereka tidak mendapatkan lingkungan yang mendukung seperti perceraian orang tua, ejekan teman sebaya, serta akses psikologis yang kurang, mereka tidak akan dapat mengatasi emosi malunya
dengan baik. Sehingga mereka akan mengalami gangguan kesehatan emosional yang buruk.
Hendaknya kita sebagai seorang guru atau pendidik maupun pendamping harus lebih fokus pada mereka yang memiliki latar belakang seperti ini. Cara kita untuk mengetahui mana anak yang mengalami latar belakang seperti ini adalah dengan melihat keseharian mereka di dalam kelas. Anak cenderung menghindari interaksi sosial, menurun prestasi akademik, tidak percaya diri, lebih banyak menghabiskan waktu untuk diam dan menyendiri.
Mahasiswa PIAUD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Angkatan 2022*