{"id":2629,"date":"2023-07-31T08:42:29","date_gmt":"2023-07-31T08:42:29","guid":{"rendered":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/?p=2629"},"modified":"2023-07-31T08:42:29","modified_gmt":"2023-07-31T08:42:29","slug":"perceraian-orangtua-mengakibatkan-anak-menjadi-merasa-malu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/perceraian-orangtua-mengakibatkan-anak-menjadi-merasa-malu\/","title":{"rendered":"Perceraian orangtua mengakibatkan anak menjadi merasa malu?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Oleh : Minke Aulan Nisa&#8217;*<\/span><\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Masalah bukan dihadapi dengan kasar melainkan dengan sabar<\/span><\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: left\"><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Anak merupakan anugrah terbesar dari Tuhan bagi sebuah keluarga. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Anak menjadi salah satu alasan suatu keluarga untuk terus bersama dan terlihat bahagia. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Namun, dapat <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">dipungkiri bahwa tidak sedikit warga negara Indonesia yang melakukan perceraian. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Yang mana <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">dalam laporan statistik Indonesia tercatat 516.334 kasus perceraian pada tahun 2022. Kasus ini meningkat hingga 15,31% dari tahun 2021 yang hanya 447.743 kasus perceraian. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Dari data <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">tersebut, kita dapat membayangkan betapa banyak anak yang terlantar atau bahkan tidak mendapat kasih sayang yang seimbang oleh orang tua mereka. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Sehingga hal itu jelas akan berdampak pada perkembangan emosi anak.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><strong><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Apa yang harus di perhatikan terhadap anak ketika orang tua memiliki masalah dan jalan satu satunya adalah cerai?\u00a0<\/span><\/span><\/strong><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Perkembangan sosial emosional anak harus diperhatikan. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Jika orang tua bercerai, maka tidak hanya berdampak pada suami istri itu saja, tetapi tentu akan berdampak pada <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">anak. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Terutama pada anak yang sedang memasuki masa tumbuh kembang.<\/span><\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: left\"><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Pada masa tumbuh kembang, anak mengalami masa golden age atau masa emas.<\/span><\/span><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: left\"><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Yang mana, pada masa ini kemungkinan besar anak masuk ke fase peka terhadap tumbuh kembang mereka secara tepat. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Perkembangan anak ini tentu tidak akan sama antara anak yang memiliki latar belakang keluarga yang selaras dengan latar belakang keluarga yang telah terpecah belah. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Karena tentu saja reaksi anak yang orang tuanya terpecah akan mengalami gangguan mental <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">ataupun sosial emosionalnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">American Academy of Pediatrics ( <\/span><\/span><a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?sa=t&amp;source=web&amp;rct=j&amp;opi=89978449&amp;url=http:\/\/scholar.unand.ac.id\/26466\/4\/4-daftar%2520pustaka.pdf&amp;ved=2ahUKEwjpj7auuriAAxUu4DgGHXaDBkMQFnoECBIQAQ&amp;usg=AOvVaw3XbgbSZ3c1tF_73O2CrLbf\"><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">2012<\/span><\/span><\/a><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\"> ) menyatakan bahwa perkembangan sosial emosi mengacu pada kemampuan anak untuk memiliki pengetahuan dalam mengelola dan <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">mengekspresikan emosi secara lengkap baik emosi positif maupun emosi negatif, mampu menjalin hubungan dengan anak-anak lain dan orang dewasa disekitarnya. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Dapat kita tangkap sendiri bahwa lingkungan dan orang dewasa disekitarnya sangat berpengaruh bagi perkembangan emosi sosial pada anak.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><strong><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Dampak pertengkaran orang tua dalam perkembangan sosial emosional anak!\u00a0<\/span><\/span><\/strong><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Jika setiap hari anak mendapatkan asupan kericuhan di dalam rumah seperti ketika orang tua mereke melihat, melihat diperhatikan setiap saat, serta kurang mendapat <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">kasih sayang, merekea pasti akan terganggu dalam perkembangan emosi sosialnya. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Mereka akan tumbuh menjadi anak yang memiliki emosi negatif. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Karena anak akan merasa khawatir kehilangan orang tuanya sehingga menimbulkan emosi yang tidak stabil. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Beberapa emosi yang dapat dikatakan sebagai emosi negatif diantaranya adalah emosi marah, emosi takut, emosi <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">malu, dan lain sebagainya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Emosi yang timbul saat orang tua anak bercerai!\u00a0<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Salah satu emosi yang akan timbul dari mereka yang mengalami perceraian dengan orang tuanya adalah emosi malu. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Menurut (Shame and Guilt, 2002) menyatakan bahwa emosi malu masuk pada emosi negatif yang melibatkan perasaan tertutup diri atau tidak percaya diri. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Hal ini sama ketika anak melihat orang tua mereka melakukan perceraian, pasti mereka akan merasa malu karena tidak memiliki orang tua yang utuh. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Mereka juga akan mendapatkan ejekan dari teman-temannya. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Situasi seperti ini akan membuat mereka tertekan dan <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">mengalami emosi yang tidak stabil.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Ketika anak merasa malu, terkadang anak juga akan merasa bersalah. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Anak akan menyelesaikan bahwa orang tua berpisah karena dirinya sendiri. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Hal ini bisa diakibatkan oleh ketika mereka mendengar orang tua sedang baretkar dan membawa nama mereka. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Maka (Niedenthal dkk., 1994) menggambarkan perbedaan antara emosi malu dan emosi bersalah. <\/span><\/span><br \/>\n<span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Emosi malu timbul karena mereka memiliki penghakiman negatif terhadap dirinya sendiri atau yang dimilikinya. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Sedangkan emosi bersalah terkait dengan penyesalan terhdap tindakan atau kegagalan yang ada pada dirinya.<\/span><\/span><\/p>\n<p>Anak yang berada di fase seperti ini sebaiknya lebih diperhatikan. Karena dampak dari emosi malu memiliki berbagai macam tingkat serta intesitasnya. Jika mereka tidak mendapatkan lingkungan yang mendukung seperti perceraian orang tua, ejekan teman sebaya, serta akses psikologis yang kurang, mereka tidak akan dapat mengatasi emosi malunya<br \/>\ndengan baik. Sehingga mereka akan mengalami gangguan kesehatan emosional yang buruk.<\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Hendaknya kita sebagai seorang guru atau pendidik maupun pendamping harus lebih fokus pada mereka yang memiliki latar belakang seperti ini. Cara kita untuk mengetahui mana anak yang mengalami latar belakang seperti ini adalah dengan melihat keseharian mereka di dalam kelas. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit\">Anak cenderung menghindari interaksi sosial, menurun prestasi akademik, tidak percaya diri, lebih banyak menghabiskan waktu untuk diam dan menyendiri.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit\"><span style=\"vertical-align: inherit\">Mahasiswa PIAUD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Angkatan 2022*<\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Minke Aulan Nisa&#8217;* Masalah bukan dihadapi dengan kasar melainkan dengan sabar Anak merupakan anugrah terbesar dari Tuhan bagi sebuah keluarga. Anak menjadi salah satu alasan suatu keluarga untuk terus bersama dan terlihat bahagia. Namun, dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit warga negara Indonesia yang melakukan perceraian. Yang mana dalam laporan statistik Indonesia tercatat 516.334 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2630,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[160,161,43,187],"class_list":["post-2629","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-mahasiswa","tag-embarrassed","tag-emosi-malu","tag-kolom-mahasiswa","tag-perceraian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2629","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2629"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2629\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2629"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2629"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2629"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}