{"id":3692,"date":"2024-11-27T09:48:30","date_gmt":"2024-11-27T09:48:30","guid":{"rendered":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/?p=3692"},"modified":"2025-09-22T23:45:22","modified_gmt":"2025-09-22T23:45:22","slug":"membangun-kembali-kepercayaan-dealing-with-trust-issue","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/membangun-kembali-kepercayaan-dealing-with-trust-issue\/","title":{"rendered":"Membangun kembali kepercayaan \u201cDealing with Trust Issue\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : Mupi Anisah*<\/p>\n<p>Pernah ga sii, kamu meragukan orang \u2013 orang disekitar mu ? atau tidak mempercayai seseorang ? mari kita merefleksikan diri sejenak. Hmm.. kira \u2013 kira apa yaa, yang menyebabkan kita terkadang sulit mempercayai oranglain ?<\/p>\n<p>Masalah kepercayaan atau <em>trust issue<\/em> merupakan salah satu fenomena yang kerap kali kita dengar. <em>Trust Issue<\/em> bukanlah suatu yang tidak wajar, namun ketika masalah ini mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Maka, hal inilah yang perlu dicari solusinya. Nah, ayuk kita ulik lebih dalam .<\/p>\n<p><em>Trust <\/em>dalam kamus <em>Webster\u2019s Third New Internasional Dictionary<\/em> menjelaskan \u201c<em>Trust is an implication of assured toward another which may rest on blended evidence of experience and more subjective grounds such as knowlewdge, affection, admiration, respect, or reverence\u201c\u00a0 <\/em>(Gave, 1966: 1545). Yang secara singkat dapat diartikan sebagai implikasi sikap yakin terhadap orang\/hal yang didasarkan pada bukti \u2013 bukti atau pengalaman dan pada dasarnya lebih subyektif seperti pengetahuan, kasih sayang, kekaguman, rasa hormat atau penghormatan. Trust sendiri dapat muncul dipengaruhi oleh pengalaman dimasa lalu.<\/p>\n<p><em>Trust issue<\/em> sendiri merupakan serapan bahasa inggris yang artinya masalah terhadap kepercayaan. Belakangan ini anak muda sering mengalami <em>trust issue<\/em> seperti dengan keluarga, orangtua, teman atau orang \u2013 orang di sekitarnya. Dengan adanya masalah kepercayaan seseorang menjadi lebih waspada dalam mempercayai oranglain. Kondisi tersebut akan membuat seseorang akan cenderung curiga ketika orang lain mendekatinya. Bagi seseorang yang mengalami trust issue, mereka akan tidak nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain sehingga orang tersebut akan menjauh dari lingkaran pertemanan (Welander,2017). Handayaningtias dalam <em>how to get over trust issue<\/em> (2022)\u00a0 menjelaskan bahwa trust issue secara umum dapat disebabkan karena orang tersebut pernah dikucilkan, dimanfaatkan oleh orang yang dipercayainya, diperlakukan tidak semestinya oleh keluarga, menjadi korban perundungan, korban <em>broken home<\/em> sekaligus pernah berada pada lingkungan <em>toxic friendship<\/em>. Menurut welander, (2017) <em>trust issue<\/em> adalah keadaan dimana seseorang menjadi pribadi yang tidak mudah percaya dengan oranglain.<\/p>\n<p>Menurut Santi (2019) tanda \u2013 tanda seseorang yang memiliki trust issue, diantaranya seseorang yang memiliki rasa curiga yang berlebihan, merasa cemburu dan takut ditinggalkan, sulit memberi maaf dan melupakan kesalahan yang dibuat oranglain serta menjadi pribadi yang <em>overthingking<\/em>.<\/p>\n<p>Lalu, apa dampak terjadi jika seseorang memiliki masalah kepercayaan atau <em>trust issue<\/em> ? yang pertama dampaknya adalah seseorang akan memiliki perasaan tidak percaya diri, kehilangan kesempatan untuk mengenal atau berinteraksi dengan orang baru serta memicu terjadinya perilaku abusive atau melakukan kekerasan kepada oranglain (Devi &amp; Indrawati, 2020).<\/p>\n<p>Oleh karena itu terdapat beberapa langkah untuk mengatasi trust issue. Yang pertama adalah Menghindari kebiasaan overthingking dengan mengubah mindset bahwa tidak memua orang akan menyakiti, mengkhianati, dan memanfaatkan diri kita. Yang kedua adalah belajar mengikhlaskan dan memaafkan kesalahan oranglain atau kejadian yang tidak menyenangkan. Misalnya dengan menghilangkan rasa dendam. Yang ketiga adalah mulai membangun rasa percaya diri sendiri dengan cara tidak membandingkan diri sendiri dengan oranglain, terus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Yang keempat yakni menjalin komunikasi yang baik dengan teman, keluarga dan orang sekitar. Dan yang terakhir, ketika masalah kepercayaan atau <em>trust issue<\/em> ini mulai menganggu aktivitas atau kegiatan sehari \u2013 hari maka hendaknya segera berkonsultasi dengan konselor, psikolog maupun psikiater.<\/p>\n<p><strong><u>Referensi : <\/u><\/strong><u>\u00a0<\/u><\/p>\n<p>Biro kemahasiswaan UAD. (2022). <em>How to get over trust issue<\/em>. 3\u20135.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.35760\/psi.2020.v13i2.3017.\">Devi, E., &amp; Indryawati, R. (2020). Trust Dan Self-Disclosure Pada Remaja Putri Pengguna Instagram. Jurnal Psikologi, 13(2), 118\u2013132. https:\/\/doi.org\/10.35760\/psi.2020.v13i2.3017.<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.31014\/aior.1991.05.04.385.\">Handaningtias, U. R., Praceka, P. A., &amp; Andryani, I. A. (2022). Public Discourse Regarding Polrisesuaiprosedur Hashtag as a Trust Issue. Journal of Social and Political Sciences, 5(4), 126\u2013134. https:\/\/doi.org\/10.31014\/aior.1991.05.04.385.<\/a><\/p>\n<p>Welander, J. (2017). Trust issues: Welfare workers\u2019 relationship to their organisation. In Doctoral dissertation, M\u00e4lardalen University (Vol. 1, Issue 1).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/satupersen.net\/blog\/trust-issues-bekas-luka-dari-masa-lalu\">Yona, T. (2020). Trust Issue: Bekas Luka dari Masa Lalu dan Cara Mengatasinya. https:\/\/satupersen.net\/blog\/trust-issues-bekas-luka-dari-masa-lalu<\/a><\/p>\n<p>*<em>Mahasiswa PIAUD UIN Malang<\/em><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Mupi Anisah* Pernah ga sii, kamu meragukan orang \u2013 orang disekitar mu ? atau tidak mempercayai seseorang ? mari kita merefleksikan diri sejenak. Hmm.. kira \u2013 kira apa yaa, yang menyebabkan kita terkadang sulit mempercayai oranglain ? Masalah kepercayaan atau trust issue merupakan salah satu fenomena yang kerap kali kita dengar. Trust Issue [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3693,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[353,44],"tags":[336,43,31,337],"class_list":["post-3692","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-mahasiswa","category-mahasiswa","tag-dealing","tag-kolom-mahasiswa","tag-piaud-uin-malang","tag-trust-issue"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3692","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3692"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3692\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4285,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3692\/revisions\/4285"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3693"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3692"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3692"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3692"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}