Oleh: Elsya Iftitahus Shidqiyyah*
Jangan pernah terlena dengan kemarahan
Menurut Linschoten ( Al Baqi, Safiruddin, 2015; Sundari, 2005 ) perasaan manusia menurut modalitasnya terbagi menjadi 3, yakni suasana hati, perasaan, dan emosi. Emosi merupakan bagian dari perasaan dalam arti yang luas. Emosi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, dan salah satu emosi yang paling intens dan sering dialami adalah kemarahan ( Ekman, P., 2007 ).
Apa itu Marah?Â
Marah merupakan respon emosional yang kuat terhadap situasi atau stimulus yang dianggap sebagai ancaman, ketidakadilan, atau pelanggaran terhadap nilai-nilai pribadi seseorang ( Lerner, JS & Keltner, D., 2001 ). Emosi ini dapat mempengaruhi psikologis dan interaksi sosial seseorang ( Desteno, D. dkk., 2000 ). Jika marah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan berisiko terhadap dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental ( Lazarus, RS, 1991 ).
Marah merupakan suatu hal yang normal dan termasuk dalam perasaan yang sehat.
Namun, sangat penting untuk dapat membedakan antara marah dan agresi atau kekerasan yang sering dianggap sebagai sebuah hal yang sama. Marah merupakan potensi perilaku, yakni emosi yang dirasakan dalam diri seseorang. Sedangkan agresi atau kekerasan merupakan perilaku yang muncul akibat emosi tertentu, khususnya emosi marah. Emosi marah tidak harus berujung pada perilaku agresi, marah yang dikelola dengan baik akan memunculkan perilaku yang dapat diterima norma sosial seperti perilaku asertif. Namun, jika marah tidak mampu dikelola dengan baik, maka marah dapat berdampak pada munculnya perilaku agresi atau kekerasan yang tidak diterima norma sosial (Al Baqi, Safiruddin, 2015; Duffy, J., 2012).
Bagaimana sih ekspresi wajah seseorang ketika marah?Â
(Al Baqi, Safiruddin, 2015; Sigman, A. W. & Snow, S. C., 1996) mengungkapkan bahwa umumnya terdapat tiga ekspresi marah yang mungkin muncul. Pertama adalah anger-out, yakni kemarahan yang muncul secara spontan dan cepat dan biasanya ditandai dengan teriakan, makian yang ditujukan kepada objek kemarahan, yang kedua adalah anger-in, yakni kemarahan yang cenderung dirasakan sendiri tanpa mengungkapkannya dan biasanya disalurkan dengan imajinasi, dan yang ketiga adalah mood incongruent speech, yakni mengungkapkan kemarahan dengan suara pelan dan lembut. Pengekspresian ini terkait dengan level kemarahan yang dirasakan individu yakni mood incongruen speech muncul saat individu merasakan level kemarahan yang rendah,anger-in saat kemarahan level sedang, dan anger-out saat kemarahan yang dirasakan mencapai level tinggi.
Proses Biologi di Balik Kemarahan
Ketika seseorang mengalami situasi yang menimbulkan kemarahan, otak akan merespon dengan mengaktifkan amigdala, yakni bagian otak yang bertanggung jawab atas emosi dan respon emosional (Gendron, M. dkk., 2014). Aktivasi amigdala akan memicu pelepasan hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin yang meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan kewaspadaan fisik (Lerner, J. S. & Keltner, D., 2001). Hal ini memberikan energi ekstra bagi individu untuk menghadapi setiap situasi yang menimbulkan marah.
Selain itu, marah juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan pengalaman masa lalu (Kassinove, H. & Sukhodolsky, D. G., 1995). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan genetik terhadap reaktivitas emosional seseorang. Selain itu, pengalaman di masa lalu, seperti trauma atau vc kekerasan dapat memengaruhi kecenderungan seseorang untuk merespons dengan kemarahan.
Cara Mengendalikan Kemarahan
Untuk mengatasi kemarahan, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti : menenangkan diri dan mengalihkan ke hal-hal yang positif ( Gross, JJ, 2015 ), mengkomunikasikan perasaan dengan tepat ( Lerner, JS & Keltner, D., 2001 ), mengubah pola pikir dan melihat situasi dengan sudut pandang yang berbeda ( Desteno, D. dkk., 2000 ), meminta dukungan dari orang sekitar atau psikolog yang memiliki keahlian.
*Mahasiswa PIAUD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Angkatan 2022