MIU Login

Mengenal lebih dekat tentang Emosi Bahagia dan Emosi Malu

Oleh : Wahyudi Akbar Khairullah*

Hati yang hidup adalah hati yang masih punya rasa malu

Mengenal emosi Malu, dan kata malu dalam istilah bahasa

Dalam bahasa Inggris istilah “have you no shame?’ berarti “have you no sense of shame?’ keduanya berarti negatif yakni bermakna “tidak punya malu”. Sedangkan dalam bahasa Yunani, “malu (shame)” merupakan suatu emosi, sementara “rasa malu (sense of shame)” merupakan ciri etika/sopan santun (RAUDHAH, 2016).

Ketika seseorangg gagal menggapai tujuan atau melanggar hukum dan norma serta mengalami kegagalan dalam mencapai suatu sasaran dan kebetulan kondisi tersubut diketahui oleh orang lain atau public maka persanaan malu akan muncul dengan sendirinya.

Definisi Malu 

Malu adalah salah satu bentuk emosi yang termasuk dalam kategori self-conscious emotions, karena melibatkan perhatian dan fokus individu pada dirinya (self) dengan melibatkan proses kognisi, afek, sensasi, perilaku dan impuls yang kompleks (Van Vliet, 2009 dalam Budiarto, 2019). Menurut artikel yang ditulis oleh (dosen tetap UIN SUMUT) Rasa malu merupakan cerminan manusia terdidik karena hanya manusia primitif yang tidak memiliki rasa malu, itulah sebabnyanya malu merupakan budaya manusia beriman baik laki-laki maupun perempuan walaupun karakter rasa malu pada laki-laki dan perempuan jauh berbeda.

Secara sederhana rasa malu dapat terjadi ketika berdekatan dengan orang lain yang terlihat seperti lebih dan secara sosial jika dibandingkan dengan yang merasa malu. Orang lain mungkin tidak mengusik secara langsung akan tetapi saat berada dekat mereka (terlihat percaya diri, terlihat lebih baik , memiliki perhatian yang lebih banyak) dapat membuat kita merasa seperti suatu yang mengusik dalam perasaan dalam diri. Beberapa peneliti membedakan rasa bersalah dan rasa malu berdasarkan evaluasi terhadap diri (diri yang buruk/cacat adalah diri yang dipermalukan) atau perilaku (bersalah adalah tindakan dan bukan penilaian pada diri), tetapi perbedaan utama rasa malu dan rasa bersalah terletak pada keterlibatan dorongan, emosi, kompetensi, keyakinan dan fokus atensi (Pinchas, 2003:2).

Supaya lebih mengenal tentang rasa malu, maka kita harus mengetahui jenis jenis malu tersebut. Ada dua jenis rasa malu yaitu : pertama, adalah khawatir bahwa orang lain akan melihat dirinya sebagai orang yang tidak menarik atau membosankan sehingga akan ditolak atau dikeluarkan dari hubungan-hubungan yang membantu. Jenis rasa malu ini merupakan “shame of deficit“ dari dikeluarkan atau ditinggalkan orang lain karena merasa tidak cukup menarik, tidak memiliki sesuatu yang cukup. Jenis malu ini dapat mengarahkan

Kepada keinginan-keinginan untuk mendekati orang lain dan diterima, dan pada saat seseorang siap melakukan seperti yang orang lain inginkan ia pun melakukannya menjadi seperti yang diinginkan orang lain sehingga orang lain tersebut akan menyukainya dan membantu dirinya (Panichas, 2003:2). Sementara iri hati (jealousy) berhubungan dengan perasaan yang kehilangan apa yang dimiliki saingan kita (Panichas,2003 :3). Dengan demikian rasa malu karena cemburu berkaitan dengan perasaan inferior (tidak memiliki) sedangkan rasa malu karena iri hati berkaitan dengan rasa kalah bersaing. Kedua jenis malu tersebut dapat memicu perilaku agresif seperti perilaku dengki dan perilaku agresi yang bertujuan menghentikan iri hati. Bukan hanya rasa malu yang bisa menjadi penyebab tindakan dengki, menjadi penerima dari tindakan dengki dapat juga memalukan. Rasa malu berakar dalam “ancaman terhadap diri“ atau kebutuhan untuk cepat mempertahankan diri, rasa bersalah lebih memperhatikan keselamatan orang lain karena adanya pengalaman distress pada orang lain. Pengasuhan dan ketiadaan respon yang menyebabkan distress mungkin terjadi pada para orang tua terhadap bayinya dalam sistem pengasuhan keluarga. Sehubungan dengan meningkatnya kematangan pada anak saat mereka menyadari adanya distress yang dialami orang lain (termasuk kesadaran adanya sumber pada distress orang lain), mengembangkan rasa empati dan simpati, dan keinginan untuk membantu orang lain.

Menurut kalian apa sih perbedaan rasa malu dan rasa bersalah? 

Beberapa peneliti membedakan rasa bersalah dan rasa malu berdasarkan evaluasi terhadap diri (diri yang buruk/cacat adalah diri yang dipermalukan) atau perilaku (bersalah adalah tindakan dan bukan penilaian pada diri), tetapi perbedaan utama rasa malu dan rasa bersalah terletak pada keterlibatan dorongan, emosi, kompetensi, keyakinan dan fokus atensi (Panichas, 2003 :2). Namun demikian, kedua emosi ini sering terjadi secara bersamaan. Misal, berbuat kejahatan pada orang lain mungkin mengaktifkan rasa bersalah dan rasa malu (RAUDHAH, 2016).

Semua itu tidak akan terjadi bila kita menemukan rasa percaya diri terhadap diri kita.

Kepercayaan diri adalah suatu sikap positif memandang kemampuan diri, tenang, merasa mampu menyesuaikan diri dan mengaktualisasikan diri (Nurmaniah & Damayanti, 2018 dalam Kurniasih et al., 2021). Ketika saya membaca artikel (Kurniasih et al., 2021) beliau memberi tau cara meningkatkan rasa percaya diri khususnya kepada anak usia dini. Beberapa strategi dalam meningkatkan kepercayaan diri anak salah satunya adalah dengan jurnal pagi, Menurut Crosby (Dhieni et al., 2017)jurnal pagi (menjurnal) adalah sarana bagi anak
untuk menulis dan berbicara tanpa paksaan mengenai kegiatan yang telah mereka lalui. Menjurnal dapat menjadi sebuah kegiatan bagi anak untuk memulai aktivitas dipagi hari dengan cara menulis, menggambar bahkan menceritakan dan berbagi mengenai cerita yang mereka alami. Menurut (Dhieni et al., 2017)Kegiatan jurnal pagi merupakan kegiatan pembuka sebelum anak masuk ke kegiatan pokok pembelajaran. Jurnal pagi(Afandi & Nurhasanah, 2019)adalah proses pengkondisian anak untuk memasuki rangkaian kegiatan- kegiatan. menjurnal merupakan proses pembangunan kemampuan kebahasaan yang bersifat expressive.Anak mencoba untuk mengungkapkan gagasan, ide dan pikiran mereka secara langsung melalui tulisan dan lisan menjadi lebih bermakna dan terarah yang mereka sampaikan kepada orang lain. Menurut Cress (Wijaya,2018) manfaat jurnal pagi mempersiapkan diri anak dalam kegiatan pembelajaran dengan tujuan membentuk suasana berkegiatan yang menyenangkan, nyaman, dan bermaknasehingga akan menuntun gelombang otak untuk aktif dalam kegiatan selanjutnya, sehingga akan membantu anak dalam menyerap pembelajaran (Kurniasih et al., 2021).

Mengenal Emosi Bahagia 

Selanjutnya kita masuk ke dalam emosi Bahagia, Bahagia bisa diartikan sebagai kondisi emosional yang ditandai dengan perasaan senang, ceria, gembira, kepuasan, dan sejahtera. Kita bisa melihat orang yang sedang Bahagia dengan Bahasa tubuh, kebanyakan disaat Bahagia ekspresi wajah yang tersenyum dengan sikap santai nada suara yang ceria dan menyenangkan. Kebahagiaan adalah perasaan yang menyenangkan dan memuat emosi positif.
Orang tua merupakan inspirasi terpenting untuk membentuk generasi yang baik. Setiap anak lahir dengan fitrah tiada satu pun anak ketika lahir,berniat menghancurkan masadepannya (Susanti et al., 2018). Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa cara- cara kekerasan dan hukuman fisik justru bisa berdampak buruk bagi perkembangan mental anak. Anak bukannya menjadi “mengerti”, malah justru bisa terganggu mentalnya. Pemahaman orang tua mengenai disiplin yang kurang baik dapat menjadi penyebab terjadinya kasus-kasus kekerasan. Mereka cenderung menyamakan disiplin dengan pemberian hukuman berupa kekerasan. Pemahaman yang biasa atau tidak tepat mengenai konsep disiplin tersebut memiliki efek yang besar terhadap perkembangan anak. Jika anak tumbuh dan berkembang di keluarga yang menerapkan konsep disiplin yang salah maka akan salah pula cara pendisiplinannya (Susanti et al., 2018). Maka dari itu stop menggunakan kekerasan agar anak itu merasa Bahagia.

*Mahasiswa PIAUD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Angkatan 2022

Berita Terkait