{"id":4641,"date":"2026-04-25T12:50:00","date_gmt":"2026-04-25T12:50:00","guid":{"rendered":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/?p=4641"},"modified":"2026-05-12T13:00:06","modified_gmt":"2026-05-12T13:00:06","slug":"membangun-satu-arah-pengasuhan-melalui-kegiatan-seminar-parenting-dan-halal-bi-halal-di-ra-perwanida-iii-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/membangun-satu-arah-pengasuhan-melalui-kegiatan-seminar-parenting-dan-halal-bi-halal-di-ra-perwanida-iii-malang\/","title":{"rendered":"Membangun Satu Arah Pengasuhan Melalui Kegiatan Seminar Parenting dan Halal bi Halal di RA Perwanida III Malang"},"content":{"rendered":"<p>Sabtu, 25 April 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan seminar parenting bertema <strong><em>\u201cDi Balik Perilaku Anak, Ada Emosi yang Perlu Dipahami\u201d<\/em>.<\/strong> Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan persepsi antara pendidik dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek sosial-emosional. Seminar parenting yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal bersama wali murid ini menjadi momen penuh makna bagi keluarga besar RA Perwanida III Kota Malang. Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memahami dunia anak secara lebih mendalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut dihadiri oleh sekitar 80 peserta, yang terdiri dari orang tua dan pendidik. Kegiatan ini menjadi kesempatan belajar yang berharga dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya emosi dalam perkembangan anak usia dini. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah RA Perwanida III, Ibu Hj. Hidayatul Chikmah, S.Ag., mengajak orang tua dan pendidik untuk bekerja sama dalam memahami emosi anak agar pengasuhan di rumah dan di sekolah dapat berjalan searah dan selaras.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"938\" height=\"571\" src=\"https:\/\/vpn.uin-malang.ac.id:10443\/proxy\/341c856d\/https\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-24.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4642\" style=\"aspect-ratio:1.6428158891099274;width:546px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-24.png 938w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-24-300x183.png 300w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-24-768x468.png 768w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-24-18x12.png 18w\" sizes=\"(max-width: 938px) 100vw, 938px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kegiatan inti seminar menghadirkan narasumber, Hj. Rika Fuaturosida, M.A., dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Laboratorium Psikologi. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan hal-hal negatif seperti marah atau menangis, tetapi juga mencakup perasaan bahagia, tertawa, dan tersenyum. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap perilaku anak merupakan bentuk ekspresi emosi yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai.<\/p>\n\n\n\n<p>Beliau juga mengajak orang tua untuk merenungkan kembali perannya, tidak hanya sebagai pengasuh yang menetapkan aturan, tetapi juga sebagai figur yang mampu membantu anak mengelola emosinya menjadi hal yang positif di masa depan. \u201cKunci dalam mengasuh anak adalah ikhlas,\u201d ungkapnya, menekankan bahwa pengasuhan yang dilandasi keikhlasan akan memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan anak.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perilaku sebagai Bahasa Emosi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sesi parenting, dijelaskan bahwa setiap perilaku anak, baik yang dianggap positif maupun negatif, merupakan bentuk komunikasi dari emosi yang mereka rasakan. Anak yang marah, menangis, atau sulit diatur bukan berarti nakal, melainkan sedang berusaha menyampaikan perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini sejalan dengan pentingnya perkembangan emosi sebagai aspek fundamental dalam pembentukan kepribadian, kemampuan sosial, serta kesiapan belajar anak. Oleh karena itu, pemahaman terhadap emosi menjadi kompetensi penting bagi orang tua dan pendidik. Dengan memahami hal tersebut, orang tua diharapkan tidak hanya merespons perilaku, tetapi juga mampu menggali penyebab emosional yang mendasarinya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"941\" height=\"577\" src=\"https:\/\/vpn.uin-malang.ac.id:10443\/proxy\/341c856d\/https\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-25.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4643\" style=\"aspect-ratio:1.630884882461617;width:556px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-25.png 941w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-25-300x184.png 300w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-25-768x471.png 768w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-25-18x12.png 18w\" sizes=\"(max-width: 941px) 100vw, 941px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Selain itu, pada usia prasekolah yang dikenal sebagai <em>golden age<\/em>, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Anak juga cenderung memiliki sifat egosentris, sehingga orang tua perlu memenuhi kebutuhan kasih sayang atau \u201ctangki cinta\u201d anak secara optimal. Kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional ini dapat berdampak pada perkembangan emosi anak di masa depan. Orang tua juga dianjurkan untuk mulai melibatkan anak dalam proses negosiasi sebagai upaya membangun kemampuan emosional yang positif, serta menyesuaikan pola asuh dengan situasi yang dihadapi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><a><\/a><strong>Mengasuh dengan Empati<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam praktiknya, narasumber menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak melalui beberapa pendekatan, seperti mendengarkan perasaan anak dengan penuh perhatian, memberikan respons yang hangat dan empatik, membantu anak mengenali dan menamai emosinya, serta menjadi teladan dalam mengelola emosi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendekatan ini terbukti mampu membantu anak membangun fondasi emosional yang kuat, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan sosial yang baik. Selain itu, anak juga belajar mengelola emosi dari bagaimana orang tua mengekspresikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, konsistensi dalam sikap dan ekspresi emosi orang tua sangat diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><a><\/a><strong>Sinergi Orang Tua dan Pendidik<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu poin penting dalam kegiatan ini adalah pentingnya keselarasan pola asuh antara rumah dan sekolah. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten agar dapat merasa aman dan berkembang secara optimal. Pola asuh dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak. Kedua faktor ini merupakan aspek yang dapat dikendalikan oleh orang tua dan pendidik dalam membentuk kecerdasan emosional anak sejak dini. Ketika orang tua dan guru memiliki pemahaman yang sama, anak akan mendapatkan pengalaman yang utuh dalam belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhir acara, sesi tanya jawab berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Orang tua dan pendidik mengajukan berbagai pertanyaan terkait perilaku anak, termasuk cara menghadapi anak dengan karakter yang beragam dalam satu kelas serta cara memahami emosi anak dalam kehidupan sehari-hari. Narasumber memberikan jawaban yang jelas dan mudah dipahami, disertai contoh pendekatan yang dapat diterapkan baik di rumah maupun di sekolah. Melalui sesi ini, peserta memperoleh wawasan baru tentang pentingnya kesabaran, empati, dan kerja sama dalam menciptakan pengasuhan yang konsisten.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><a><\/a><strong>Halal Bihalal: Menguatkan Kebersamaan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Setelah sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan halal bihalal yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Momen ini menjadi sarana untuk saling memaafkan, mempererat hubungan antara guru dan wali murid, serta memperkuat komunitas pendidikan yang harmonis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"938\" height=\"611\" src=\"https:\/\/vpn.uin-malang.ac.id:10443\/proxy\/341c856d\/https\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-26.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4644\" style=\"aspect-ratio:1.535232383808096;width:517px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-26.png 938w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-26-300x195.png 300w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-26-768x500.png 768w, https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/image-26-18x12.png 18w\" sizes=\"(max-width: 938px) 100vw, 938px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kebersamaan ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi anak. Kegiatan parenting dan halal bihalal ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan langkah nyata dalam membangun sinergi antara rumah dan sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan memahami bahwa di balik setiap perilaku anak terdapat emosi yang perlu dipahami, diharapkan orang tua dan pendidik dapat berjalan seiring dalam mendampingi anak. Pengasuhan yang selaras tidak hanya membantu anak berkembang secara optimal, tetapi juga membentuk generasi yang sehat secara emosional, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/am_ra.perwanida_iii?igsh=MTAxM3MwbzU2eXp5ag==\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/www.instagram.com\/am_ra.perwanida_iii?igsh=MTAxM3MwbzU2eXp5ag==\">Klik Vidio After Movie disini<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penulis Mahasiswa Asistensi Mengajar :<\/p>\n\n\n\n<p>Imelda Rahayu (230105110036)<\/p>\n\n\n\n<p>Ilmaya Asadina (230105110062)<\/p>\n\n\n\n<p>Aulia Natasya Putri (230105110031)<\/p>\n\n\n\n<p>Fifit Farihah (230105110058)<\/p>\n\n\n\n<p>Alya Nur Halisah (230105110044)<\/p>\n\n\n\n<p>Rikza Azharona Susanti, M. Pd (Dosen Mata Kuliah Parenting &amp; Konseling Keluarga)<\/p>\n\n\n\n<p>Ainur Rochmah, M. Pd (Dosen Pembimbing Lapangan)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>More Information :<\/strong><br><strong>Email : <\/strong>perspiaud@uin-malang.ac.id<br><strong>Instagram : <\/strong>officialpiauduinmaliki_<br><strong>Website : <\/strong>https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id<br><strong>Call center :<\/strong>+62 882-9466-2944<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\"><\/ol>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu, 25 April 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan seminar parenting bertema \u201cDi Balik Perilaku Anak, Ada Emosi yang Perlu Dipahami\u201d. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan persepsi antara pendidik dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek sosial-emosional. Seminar parenting yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4645,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4641","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4641","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4641"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4641\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4646,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4641\/revisions\/4646"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4645"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}