{"id":2465,"date":"2023-07-18T02:16:30","date_gmt":"2023-07-18T02:16:30","guid":{"rendered":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/?p=2465"},"modified":"2023-07-18T02:16:30","modified_gmt":"2023-07-18T02:16:30","slug":"bersikap-bijak-dalam-mengontrol-emosi-marah-pada-anak-usia-dini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/bersikap-bijak-dalam-mengontrol-emosi-marah-pada-anak-usia-dini\/","title":{"rendered":"Bersikap Bijak Dalam Mengontrol Emosi Marah Pada Anak Usia Dini"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Syarifatul Khusniyah*<\/strong><\/p>\n<blockquote><p>Emosi marah seringkali dianggap sebagai emosi yang tidak diinginkan. Padahal, emosi marah merupakan emosi yang normal dan bahkan penting bagi perkembangan anak.<\/p><\/blockquote>\n<p>Emosi marah adalah respons alami yang dirasakan oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mengalami marah, tubuh kita mengalami perubahan fisik dan emosi yang dapat mempengaruhi perilaku dan interaksi sosial kita. Penting bagi kita untuk belajar mengelola dan mengekspresikan emosi marah ini dengan cara yang sehat dan bijaksana (<a href=\"https:\/\/onesearch.id\/Record\/IOS2875.slims-21278\">Ekman, 2010<\/a>).<\/p>\n<p>Marah juga pasti akan dialami oleh anak usia dini. Namun, sebagian orang tua seringkali menganggap emosi marah pada anak sebagai perilaku yang tidak diinginkan dan perlu segera diatasi. Padahal, sebenarnya marah adalah emosi yang normal dan penting bagi perkembangan anak (<a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/abs\/10.1111\/1467-9280.00304\">Dunn, 2018<\/a>).<\/p>\n<p>Menurut (<a href=\"https:\/\/doi.org\/https:\/\/www.apa.org\/helpcenter\/anger- management\">American Psychological Association, 2017<\/a>), marah adalah respon alami terhadap situasi yang membuat anak merasa tidak nyaman atau merugikan dirinya. Emosi ini dapat membantu anak mengatasi perasaan tidak puas atau tidak adil. Namun, jika tidak diatur dengan baik, marah dapat mengganggu interaksi sosial anak dan memicu perilaku agresif. Sebagai orang tua, kita dapat membantu anak mengelola emosi marah dengan cara yang tepat. Berikut adalah beberapa tips yang dapat diterapkan dalam mengelola emosi marah pada anak:<\/p>\n<p><strong>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Mengajarkan anak untuk mengenali emosi marah<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum anak dapat mengatur emosinya, ia perlu belajar mengenali dan memahami apa yang dirasakannya. Sebagai orang tua, kita dapat membantu anak mengenali emosi marah dengan mengajarkan mereka untuk memperhatikan perubahan fisik dan emosional yang terjadi saat mereka merasa marah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanyakan perasaan anak, seperti &#8220;Kenapa kamu merasa marah?&#8221; atau &#8220;Apa yang membuat kamu merasa kesal?&#8221;. Dengan mengajarkan anak untuk mengenali emosi marah, mereka dapat lebih mudah memahami dirinya sendiri dan mengatasi emosi marah dengan cara yang tepat (<a href=\"https:\/\/raisingchildren.net.au\/toddlers\/behaviour\/emotions- feelings\/anger\">Raising Children Network, 2020<\/a>).<\/p>\n<p><strong>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Membantu anak mengekspresikan emosi marah dengan cara yang sehat<\/strong><\/p>\n<p>Setelah anak dapat mengenali emosi marah, orang tua dapat membantu mereka mengekspresikan emosi tersebut dengan cara yang sehat dan tidak merugikan orang lain. Misalnya, dengan mengajarkan anak untuk mengambil napas dalam-dalam, menghitung hingga sepuluh sebelum bereaksi, atau menulis jurnal tentang perasaannya. Dengan cara ini, anak dapat belajar mengekspresikan emosi marah dengan cara yang lebih terkontrol dan tidak merugikan orang lain (<a href=\"https:\/\/www.zerotothree.org\/resources\/1068-tips-for-helping-children- with-anger\">Three, 2016<\/a>).<\/p>\n<p><strong>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Meningkatkan keterampilan sosial anak<\/strong><\/p>\n<p>Menurut (<a href=\"https:\/\/www.healthline.com\/health\/how-to-help-child-manage-anger\">Janssen, 2018<\/a>) keterampilan sosial yang baik dapat membantu anak mengatasi rasa marah dengan cara yang sehat. Orang tua dapat membantu anak meningkatkan keterampilan sosial mereka dengan mendorong mereka untuk bermain bersama teman sebaya, belajar berbagi, dan menghormati perbedaan. Hal ini dapat membantu anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan mengurangi kemungkinan terjadinya konflik yang dapat menimbulkan emosi marah.<\/p>\n<p><strong>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Memberikan contoh perilaku yang baik<\/strong><\/p>\n<p>Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami. Sebagai orang tua, kita dapat memberikan contoh perilaku yang baik saat menghadapi situasi yang menimbulkan emosi marah. Misalnya, dengan menunjukkan cara menyelesaikan konflik secara damai dan menghindari perilaku agresif. Dengan memberikan contoh perilaku yang baik, anak dapat belajar mengatasi emosi marah dengan cara yang sehat dan tidak merugikan orang lain (<a href=\"https:\/\/www.healthline.com\/health\/how-to-help-child-manage-anger\">Janssen, 2018<\/a>).<\/p>\n<p><strong>5.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Memberikan dukungan dan perhatian yang cukup<\/strong><\/p>\n<p>Anak yang merasa didukung dan diperhatikan oleh orang tua cenderung lebih mudah mengatasi emosi marah. Sebagai orang tua, kita dapat memberikan dukungan dan perhatian yang cukup dengan cara mendengarkan keluhan anak, memberikan pujian dan penghargaan ketika anak melakukan hal-hal positif, serta memberikan waktu berkualitas bersama. Hal ini dapat membantu anak merasa lebih dicintai dan dihargai, sehingga mereka lebih mudah mengatasi emosi marah dan tumbuh menjadi anak yang bahagia.<\/p>\n<p>Meskipun marah adalah emosi yang normal dan penting bagi perkembangan anak, namun apabila tidak diatur dengan baik, marah dapat mengganggu interaksi sosial anak dan memicu perilaku agresif. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu anak mengelola emosi marah dengan cara yang tepat.<\/p>\n<p>Anak usia dini seringkali masih belum mampu mengendalikan emosi mereka dengan baik. Karena itu, sebagai orang tua, kita harus membantu mereka mengatasi emosi marah dengan cara yang tepat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan anak untuk mengenali emosi marah. Dengan mengenali emosi marah, anak dapat lebih mudah memahami dirinya sendiri dan mengatasi emosi marah dengan cara yang tepat.<\/p>\n<p>Sebagai orang tua, kita juga harus memberikan contoh perilaku yang baik saat menghadapi situasi yang menimbulkan emosi marah. Dengan memberikan contoh perilaku yang baik, anak dapat belajar mengatasi emosi marah dengan cara yang sehat dan tidak merugikan orang lain (<a href=\"https:\/\/onlinelibrary.wiley.com\/doi\/10.1002\/9780470147658.chpsy0311\">Eisenberg, N., Fabes, R. A., &amp; Spinrad, 2006<\/a>).<\/p>\n<p>Dalam mengelola emosi marah pada anak usia dini, penting bagi orang tua untuk memiliki kesabaran dan konsistensi dalam memberikan dukungan dan bimbingan. Jangan lupa juga untuk terus mengamati perkembangan anak dan jika perlu berkonsultasi dengan ahli psikologi. Dengan membantu anak mengelola emosi marah dengan cara yang tepat, anak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan bahagia.<\/p>\n<p>Terakhir, penting bagi orang tua untuk memberikan dukungan dan perhatian yang cukup pada anak. Anak yang merasa didukung dan diperhatikan oleh orang tua cenderung lebih mudah mengatasi emosi marah. Sebagai orang tua, kita dapat memberikan dukungan dan perhatian yang cukup dengan cara mendengarkan keluhan anak, memberikan pujian dan penghargaan ketika anak melakukan hal-hal positif, serta memberikan waktu berkualitas bersama.<\/p>\n<p>*Mahasiswa PIAUD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Angkatan 2022<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Syarifatul Khusniyah* Emosi marah seringkali dianggap sebagai emosi yang tidak diinginkan. Padahal, emosi marah merupakan emosi yang normal dan bahkan penting bagi perkembangan anak. Emosi marah adalah respons alami yang dirasakan oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mengalami marah, tubuh kita mengalami perubahan fisik dan emosi yang dapat mempengaruhi perilaku dan interaksi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2466,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[141,138,43,142,143],"class_list":["post-2465","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-mahasiswa","tag-angry","tag-emosi-dasar","tag-kolom-mahasiswa","tag-marah","tag-mengontrol-emosi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2465","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2465"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2465\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2465"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2465"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/piaud.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2465"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}